Budaya Belajar, Dorong Organisasi Lebih Inovatif

Setiap organisasi pada dasarnya selalu menerapkan pembelajaran. Salah satu cara menerapkannya dengan budaya belajar. Budaya belajar penting untuk mendorong suatu organisasi dan orang yang terlibat di dalamnya menjadi lebih inovatif. Presentase budaya belajar berpengaruh dalam mendukung inovasi organisasi ialah 42,20%.

Setiap organisasi berlomba-lomba mewujudkan inovasi baru agar dapat bersaing dan bertahan, terutama di masa pandemi Covid 19. Psikolog Bisnis Amy Mardhatillah mengatakan dengan penerapan budaya belajar, inovasi dan kinerja dalam sebuah organisasi dapat meningkat. Organisasi yang dimaksud di sini dapat berupa sebuah perusahaan atau pun instansi dan institusi lainnya.

Berdasarkan survey yang dilakukannya, Amy Mardhatillah menyebut di masa pandemi Covid 19 ini, 94% perusahaan melakukan inovasi. Mulai dari inovasi produk, proses dan cara kerja, layanan, teknologi digital, model bisnis dan lainnya. Pada level organisasi, sebanyak 80% anggota organisasi mengaku terlibat langsung dalam inovasi organisasi.

 “Para pimpinan dalam sebuah organisasi juga harus memberikan kenyamanan pada karyawannya untuk belajar. Seorang pemimpin yang perhatian, dalam arti mau berdiskusi tentang apa yang tengah terjadi pada perusahaannya dan mencari solusi bersama dapat membuat karyawan juga perusahaannya berkembang lebih inovatif,” ujar Amy Mardhatillah pada Webinar bertajuk ‘Pentingnya Peran Learning Culture dalam Menciptakan Inovasi Organisasi’, Sabtu (22/8/2020).

Intensitas inovasi organisasi di masa pandemi Covid 19 dipengaruhi oleh ketersediaan informasi dan kepemimpinan transformasi. Sementara, persepsi inovasi secara umum ditentukan oleh budaya belajar, ketersediaan informasi dan keamanan psikologis. Dalam hal ini, peningkatan kualitas kepemimpinan masih sangat diperlukan.

Founder media AKUTAHU Isnaeni Achdiat mengaku sering berdiskusi dengan karyawan di medianya tentang inovasi yang harus dilakukan dalam pengembangan organisasi. Menurutnya, mengumpulkan ide saja tidak cukup, harus ada implementasi dari ide-ide inovasi tersebut.

         Isnaeni Achdiat juga mengemukakan strategi budaya belajar yang ia terapkan dalam memimpin suatu organisasi. Pertama harus adanya kolaborasi, kerja sama antara pemimpin dengan anggota organisasi. Berikutnya, suportif yakni dengan menerima apa pun kelemahan ide yang diberikan dengan cara mengapresiasi.

Ia menyebutkan jangan sampai ada senioritas yang menyebabkan killing ideas pada anggotanya. Selain itu, alokasi dana juga diperlukan dalam memfasilitasi anggota untuk bereksperimen menggali pengetahuan baru.

“Pengetahuan itu mengalir, formal learning justru kontribusinya sedikit. Lebih banyak pembelajaran yang didapat secara informal atau dengan pengalaman yang berdasarkan emosi. Seperti berdiskusi dengan rekan kerja, ngobrol bersama customer, dan lainnya,” kata Isnaeni.

Pernyataan ini juga didukung oleh Amy Mardhatillah. Ia menyebut ada proses dalam budaya belajar yang ia sebut 3P (Principle, Process, Purpose). Proses pembelajaran organisasi dapat terjadi melalui interaksi antara pengalaman, kinerja, tugas, alat, anggota dan pengetahuan. “Gak melulu formal, bisa juga informal bisa jadi lewat interaksi rekan kerja dll.” tambahnya. (AFP)