Barong Landong, Ondel-Ondel dari Bengkulu

Ondel-ondel dikenal sebagai kesenian asli Betawi, berupa orang-orangan bertubuh tinggi, besar serta berpakaian warna-warni. Ternyata kesenian juga ada di Bengkulu, namanya Barong Landong.

Barong Landong merupakan kesenian tradisional dari suku Lembak di Bengkulu. Pada mulanya Barong Landong dibuat saat perayaan panen padi sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh, saat pasirah atau pemimpin berhasil memimpin daerahnya, upacara pernikahan yang sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda.

Penduduk Lembak biasanya juga menyebut Barong Landong dengan wong beso yang artinya orang besar. Jika berdasarkan namanya maka Barong artinya orang-orangan dan Landong artinya tinggi dan besar itu berarti orang-orangan yang besar nan tinggi. Barong Landong ini muncul berpasangan layaknya pengantin laki-laki dan perempuan yang didandani mengenakan pakaian adat Bengkulu yang dominan merah dan kain blongsong bersulam emas dihiasi topi singal sebagai ciri khasnya. Namun saat ini kain blongsong sulit dicari sehingga digantikan menggunakan kain besurek batik khas Bengkulu.

Kesenian tradisional Barong Landong digerakkan dari dalam tubuh boneka melalui seniman yang masuk ke dalam tubuh Barong Landong kemudian menari. Dengan diiringin alunan dol dan musik kolintang serta penari yang berjumlah 10 orang selama 90 menit menambah daya tarik sendiri bagi yang melihatnya

Barong Landong ini terbuat dari kerangka bubu penangkap ikan yang terbuat dari bambu, kayu pulai kemudian kerangka yang tangan dan kepala sudah jadi ditutup dengan busa dan kain satin yang masing-masing 4 meter, beratnya bisa mencapai 15 kg dengan tinggi boneka Barong Landong 2 sampai 2,5 meter. Prosesnya pun bisa sampai satu bulan.

Barong Landong bisa disaksikan secara langsung saat berkunjung ke Bengkulu. Barong Landong dapat dijumpai di museum Bengkulu,  festival Tabot biasanya diadakan 1-10 Muharam, serta festival besar lainnya di Bengkulu.

Kesenian ini bertujuan mengokohkan dan melestarikan kebudayaan yang telah ada. Jangan lupa untuk menghargai, menjaga dan melmpariwarakan kesenian budaya kita!.

Sumber: Kunjungan langsung ke museum kota Bengkulu