Banyak Media Tidak Ramah Perempuan, Pakar Gender Kemenpppa: Media Punya Pilihan

Bogor - Diskriminasi terhadap perempuan di media masih sering terjadi. Masih ada media yang menyorot perempuan dengan stigma atau memberikan konotasi negatif terhadap perempuan. Hal ini menjadi topik pada Pelatihan Tentang Isu-Isu Gender dan Anak Bagi SDM Media pada  Rabu (19/06) di Hotel Grand Savero, Bogor. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenpppa) bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Menurut Pakar Gender Kemenpppa Sri Wahyuni, diskriminasi terhadap perempuan di Indonesia masih menjadi isu yang mengkhawatirkan. Pekerja perempuan masih banyak yang belum mendapatkan haknya seperti cuti hamil, cuti pasca-melahirkan, maupun cuti haid.

"Bahkan, masih ada perusahaan yang tidak ingin merekrut pekerja perempuan karena harus memberikan cuti hamil dan cuti pasca-melahirkan" kata Sri.

Pakar Gender Kemenpppa, Sri Wahyuni menjelaskan peran media terhadap perjuangan kesetaraan gender (Akutahu)

Terkait relasi media dan perempuan, pakar gender kelahiran Mataram ini melihat masih banyak media yang tidak bijak dalam membuat artikel mengenai perempuan. Penggunaan istilah merendahkan derajat perempuan seperti "bahenol" pada berita mengenai janda. Menurut Sri media harusnya fokus pada konten dibanding diksi yang menjerumuskan pembaca untuk memberikan stigma negatif kepada perempuan. 

"Media punya pilihan untuk memberitakan dalam konteks yang membangun atau yang merusak" terang Sri.

Sri melihat, keberpihakan media kepada perempuan amat penting untuk mengubah keadaan ini. Media, menurut Sri dapat berpihak pada perempuan dengan bersikap adil untuk tidak merugikan salah satu gender. Keberpihakan itu dapat diekspresikan dengan cara yang paling sederhana dengan mengganti istilah wanita dengan istilah perempuan.

"Wanita dalam bahasa Jawa artinya wani ditata atau bisa ditata" Jelas Sri.

Bagi Sri, keberpihakan media sekecil apapun penting. Ia berharap wartawan dapat menghasilkan artikel yang menggugah masyarakat untuk mengawali perubahan.