Bahaya, Demam Berdarah Mulai Mengintai

Jakarta - Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sedang terjadi secara masif di beberapa daerah di Indonesia. Data dari Kementerian Kesehatan pada 2016 menemukan, beberapa daerah bahkan menjadi daerah dengan jumlah kasus kematian terbanyak akibat DBD, seperti di Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Kupang.

Penyakit DBD disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Jenis nyamuk ini adalah penyebab utama (vektor primer) terjadinya penularan DBD. Biasanya, menyerang saat siang atau sore hari pada manusia atau hewan yang secara klinis dinyatakan sakit. 

Sementara penyebab lainnya (vektor sekunder) adalah nyamuk Aedes albopictus. Gigitan nyamuk ini menyebarkan infeksi pada siang hari. Nyamuk jenis ini termasuk jenis yang susah dibasmi karena terbangnya lebih cepat, lincah, dan terutama menyerang anak-anak yang tidur siang. 
 
Penyakit DBD merupakan penyakit menular karena nyamuk yang sama dapat membawa infeksi ke orang lain setelah mengigit orang yang terinfeksi sebelumnya. Bahkan, jika Anda pernah menderita pun tetap berpeluang terkena DBD.

Setelah gigitan nyamuk yang membawa virus penyakit DBD akan terjadi masa inkubasi sekitar 4 hari hingga muncul demam. Tanda lainnya, seperti sakit kepala, kemerahan pada permukaan kulit, dan nyeri pada otot dan tubuh.

Namun, demam berdarah tidak harus menunjukkan gejala yang sama, seperti bintik kemerahan di permukaan kulit. Deteksi dini jarang bisa dilakukan oleh masyarakat awam karena pada demam pada fase awal demam, mirip dengan demam penyakit lainnya yang seringkali dianggap sepele dan dirasa dapat disembuhkan dengan minum obat demam yang dijual bebas. Ada baiknya,  jika merasa demam lebih dari 2 hari, segera memeriksakan diri ke dokter untuk diagnosa lebih lanjut.

dr. Sandy Perkasa, Sp.PD, dokter Spesialis Penyakit Dalam OMNI Hospitals Alam Sutera mengatakan, "demam yang dialami terdiagnosa demam berdarah maka harus segera diobati sebelum mengalami fase kritis yang dapat menyebabkan kematian."

Adapun demam berdarah memiliki beberapa fase, paling awal yaitu merasa demam cukup tinggi hingga 40 derajat celsius yang berlangsung selama 1 hari hingga 7 hari. Pada fase ini, penderita DBD dianjurkan memperbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi, serta membantu menurunkan suhu tubuh. 

Selain demam, gejala yang ditemukan pada fase ini seperti infeksi tenggorokan, sakit di area bola mata, anoreksia, mual dan muntah. Ketika dilakukan pemeriksaan lab pun ditemukan jumlah sel darah putih dan trombosit yang menjadi turun. 

Lebih bahaya lagi saat pasien positif terkena DBD memasuki fase kritis di hari ke-4 atau hari ke-5. Pada fase ini, panas mulai turun dan pasien merasa sudah sembuh. Namun, penurunan suhu tubuh bukan berarti sembuh karena terjadi penurunan trombosit.

Penurunan trombosit  yang drastis mengakibatkan darah menjadi lisis (membran plasma robek hingga sel menjadi rusak). Jika hal ini terjadi, fungsi darah dan jantung akan terganggu. Indikasi dini pembuluh darah pecah misalnya penderita DBD mengalami muntah, mimisan, pembesaran organ hati, dan nyeri perut.