Apakah Perusahaan Teknologi Finansial Dapat Bertahan?

Jakarta - Himpunan Mahasiswa Akuntansi Universitas Atmajaya mengadakan Accounting Fair of Atma Jaya (AFTA) 2019, festival akuntansi yang mengundang berbagai SMA untuk lomba akuntasi di Universitas Atmajaya pada Selasa (17/09/2019).

Selain lomba akuntansi atau di acara ini disebut accounting battle, ada pula seminar akuntansi yang mengundang Isnaeni Achdiat (Managing Partner EY) dan Aries Dwiarto (Product Lead, Dana Indonesia). Mereka  berdiskusi mengenai teknologi finansial.

Isnaeni melihat pada zaman ini, aset tidak lagi dihitung dari untung-rugi finansial yang didapat. 

"Pada masa ini, aset terutama pada teknologi finansial diukur dari kesetiaan pelanggan pada aplikasi, kepercayaan pelanggan dan lain-lain" terang Isnaeni.

Isnaeni menambahkan bahwa ilmu akuntansi harus segera berubah. Mengutip buku The End of Accounting, Isnaeni menyimpulkan, para akuntan harus meninggalkan paradigma kuno. Ada beberapa variabel baru yang dihitung seperti kepercayaan pelanggan, pengembangan komunitas, dan hal lain yang membuat ekonomi zaman ini berbeda dengan masa lalu sehingga mengubah strategi banyak perusahaan, terutama perusahaan teknologi finansial.

"Sekarang perusahaan (fintech) berusaha mengembangkan komunitas penggunanya" Terang Isnaeni.

Aries menambahkan untuk bisa bertahan di masa ini, perusahaan teknologi finansial harus bisa melakukan mitigasi risiko sejak dini.

"Setiap pilihan pasti ada risikonya, ini tergantung dari bagaimana mitigasi risikonya" Jelas Aries.