Indonesia Menuju Revolusi Industri 4.0

Dunia industri sedang memasuki era baru dalam perkembangnnya, sebuah revolusi yang bukan hanya menjadi perbincangan dunia namun hangat membumi di bumi pertiwi Indonesia. Memasuki generasi keempat maka Indonesia harus siap dengan segala perubahan yang terjadi, perubahan dan perkembanagan  dalam bidang industri dan manufaktur dunia berupa Revolusi Industri 4.0. 

​​​Mendengar kata Revolusi Industri 4.0 tentunya pikiran kita akan ter-framing pada tiga kata yaitu teknologi, otomatisasi, dan disrupsi. Ketiga kata ini membawa pengaruh terhadap massa depan yang penuh ketidakpastian dan persaingan. Menurut World Economic Forum ada sekitar 75 juta pekerja berubah dan 133 juta pekerjaan baru akan muncul sebagai hasil dari perkembangan teknologi pada 4 tahun kedepan. Istilah Revolusi Industri 4.0 berawal dari Pemerintahan Jerman yang berhasil menyusun sebuah proyeksi strategis teknologi canggih yang sangat mengutamakan penggunaan komputer atau komupterisasi pada semua pabrik di negara mereka. Revolusi Industri 4.0 kemudian dibahas dalam pertemuan di Hannover Fair, Jerman pada 2011 silam. Kemudian pada Oktober 2012, Working Group On Industry 4.0 memaparkan rekomendasi pelaksanaan Revolusi Industri 4.0 kepada Pemerintahan Federal jerman.

Revolusi Industri 4.0 merupakan kelanjutan dari Revolusi Industri sebelumnya, tentunya revolusi kali ini membawa dampak besar terhadap Asia Tenggara khususnya Indonesia. Indonesia merupakan negara yang paling padat di kawasan Asia Tenggara. Indonesia salah satu negara yang diprediksi akan mengalami dampak terbesar dari Revolusi Industri 4.0 berupa pengalihan pekerjaan, dengan jumlah 9,5 juta pekerja. Seiring dengan perkembangan tekonologi, kawasan ini akan mulai beralih pekerjaan dari pertanian menuju pekerjaan yang berfokus pada penggunaan layanan teknologi. Ada beberapa Tantangan yang akan dihadap Indonesia dalam Revolusi Industri 4.0, menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto yang pertama ialah Industri Hulu (upstream)  yang kurang berkembang, ditandai dengan bahan baku dan komponen kunci yang sangat bergantung terhadap impor, karena lebih dari 50% industri petrokimia, 74% logam dasar, serta bagain penting di bidang elektronik dan otomatif di impor dari luar.

 Kedua, infrastruktur digital dan platform digital yang belum optimal dan memadi. Indonesia masih mengadopsi 4G dan belum siap untuk menyambut 5G, serta kecepatan rata-rata fiber optic kurang dari 10 Mbps. Ketiga, masih banyaknya tenaga kerja yang tidak terlatih, Indonesia memiliki angkatan kerja terbesar ke-4 di dunia namun dengan banyaknya jumlah pekerja yang tidak terlatih, dengan jumlah US$ 114/kapita dari anggaran pendidikan pemerintah yang dikeluarkan. dan yang terakhir ialah pendanaan domestik serta penggelolaha teknologi yang terbatasa ditambah dengan belum adanya pusat-pusat inovasi, berdasarkan anggaran pemerintah untuk penelitian dan pengembangan (R&D) masih sangat terbatas hanya 0,1% hingga 0,3% dari PDB. Namuan untuk menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0 itu Kementrian Perindustrian Indonesia telah merancang sebuah roadmap (peta jalan) yang terintegrasi demi mewujudkan sejumlah strategi dalam memasuki era industri 4.0 atau yang disebut dengan Making Indonesia 4.0.  Jadi sudah siapkah Indonesia Menyambut Revolusi Industri 4.0 ? jawabanya ada ditanganmu, pemuda – pemuda Indonesia.

 

Sumber : kompas.com, cnbcindonesia.com, manufacturingindonesia.com.

Suber gambar : Google.com